Meritokrasi
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Januari 2023) |
| Bagian dari seri Politik |
| Bentuk dasar dari pemerintahan |
|---|
|
|

Meritokrasi (merit, dari bahasa Latin: mereō; dan -krasi, dari bahasa Yunani Kuno: κράτος kratos, 'kekuatan, kekuasaan') adalah sistem politik yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan atau kelas sosial.[1] Kemajuan dalam sistem seperti ini didasarkan pada kinerja, yang dinilai melalui pengujian atau pencapaian yang ditunjukkan. Meskipun konsep meritokrasi telah ada berabad-abad lamanya, istilah ini sendiri diciptakan pada tahun 1958 oleh sosiolog Michael Dunlop Young dalam buku distopia politik dan satirenya yang berjudul The Rise of the Meritocracy.[2]
Masa awal Indonesia
Latar kronologis kegagalan pembentukan lingkungan teknokrasi di Indonesia dengan menelusuri konflik antara misologi dan meritokrasi dari masa awal hingga era modern
| Tahun/Periode | Konteks Politik dan Sosial | Wujud Misologi | Wujud Meritokrasi | Titik Konflik dan Peristiwa Penting | Dampak pada Upaya Teknokrasi | Mekanisme Delegitimasi | Dampak Institusional dan Sosial Jangka Panjang | Upaya Rekonsiliasi atau Adaptasi | Analisis Penyebab Struktural | Sumber Rujukan |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Masa Pra-Kalender (sejak abad ke-1 Masehi) | Struktur sosial berjenjang adat-istiadat dengan kekuasaan raja dan aristokrasi di kerajaan-kerajaan awal Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit. Pengaruh kuat kebudayaan dan kepercayaan tradisional kepada leluhur dan roh. | Narasi mitologis dan ritual religius dominan dalam mengatur sosial-politik, seperti keyakinan terhadap roh leluhur dan takhayul dalam pembuatan keputusan. | Ada bentuk awal pengakuan terhadap tokoh dengan keahlian khusus dalam agama dan pemerintahan, namun tanpa sistem pengukuran atau lembaga pendidikan formal. | Konflik muncul ketika aspirasi meritokratis (pemimpin berdasarkan kemampuan) minimal melawan norma turun-temurun dan kekuasaan warisan (misologi) yang sakral.[3] | Pembentukan tata kelola keahlian modern terhambat oleh dominasi norma adat dan spiritual yang menolak rasionalitas teknis. | Delegitimasi melalui ritual dan norma sosial yang menegaskan kewenangan leluhur dan tradisi sebagai sumber kebenaran tertinggi. | Stabilitas sosial tinggi tapi inovasi kebijakan stagnan, kepercayaan tertuju pada kebiasaan dan ritual, bukan pada keahlian teknis. | Upaya adaptasi minimal dan tersebar, terutama lewat pelestarian pranata adat yang mengakomodasi perubahan kecil tanpa merombak struktur. | Faktor budaya patriarki dan norma spiritual yang kuat menjustifikasi kekuasaan turun-temurun dan menolak nilai kompetensi individual. | Naskah sejarah, Arsip Keraton Yogyakarta, abad ke-12; laporan antropologis, Lembaga Kajian Budaya, 2004 (menengah) |
| Masa Kolonial Belanda (abad 17–19) | Pemerintahan kolonial dengan sistem birokrasi yang memadukan administrasi Belanda dan struktur lokal; kelas administrasi Eropa dominan. | Kepercayaan masyarakat lokal pada tokoh adat dan keagamaan masih kuat, menolak sebagian konsep administrasi berbasis keahlian asing. | Penyebaran lembaga pendidikan formal ala Barat, seperti sekolah pemerintah dan teknik, mulai memperkenalkan meritokrasi administrasi. | Benturan sering terjadi antara pejabat jawatan Belanda (berbasis merit administratif) dengan kepala adat dan pamong praja yang berpegang pada tradisi. | Sistem teknokrasi masih belum berjalan optimal karena kurangnya legitimasi dari masyarakat adat dan konflik kepentingan.[4] | Kampanye sosial mempertahankan kekuasaan tradisional lewat narasi kultural dan dukungan tokoh lokal; meritokrasi disikapi skeptis. | Lambatnya modernisasi administrasi dan birokrasi, ketidakpastian peran teknokrat dalam pemerintahan kolonial yang lebih mengutamakan kontrol politik. | Beberapa reformasi pendidikan administratif kolonial memperluas pendidikan teknis, namun belum menyentuh akseptabilitas masyarakat luas. | Ketimpangan struktur sosial kolonial, dominasi kekuasaan Eropa, dan resistensi budaya lokal menjadi penyebab utama konflik nilai. | Dokumen kolonial Belanda, Arsip Nasional RI, 1930; studi sejarah sosial, Universitas Leiden, 1985 (tinggi) |
| Era Orde Lama (1945–1966) | Masa revolusi dan transisi kemerdekaan dengan kondisi politik tak stabil; kekuasaaan berganti dari militer ke sipil. | Pola patronase politik, pengaruh kelompok religius tradisional dan militer yang kadang menolak teknokrasi modern.[5] | Munculnya teknokrat awal di pemerintahan dengan latar belakang pendidikan universitas baik dalam dan luar negeri. | Kerap terjadi benturan antara penjunjung nilai ideologis (misologi) dan teknokrat ekonomi; misalnya kebijakan ekonomi berbasis data sering ditolak. | Upaya teknokrasi sering tertunda, banyak kebijakan teknis dibatalkan akibat tekanan politik dan kepentingan kelompok. | Mobilisasi sosial berbasis kelompok ideologis dan struktural yang mempertahankan kekuasaan tradisional dan militer. | Ketidakpastian kebijakan ekonomi dan administratif, melemahkan kredibilitas lembaga teknis pemerintahan. | Inisiasi pendidikan teknis dan penguatan lembaga akademik sebagai langkah awal untuk membangun meritokrasi administrasi. | Konflik ideologis antara kelompok nasionalis militan dan teknokrat, serta lemahnya sistem hukum dan regulasi. | Arsip nasional RI, dokumen kabinet Orde Lama, 1960; laporan sejarah politik, LIPI, 1975 (menengah) |
| Era Orde Baru (1966–1998) | Pemerintahan otoriter dengan dominasi militer dan birokrasi sentral; pembangunan ekonomi prioritas utama.[6] | Pola patronase dan oligarki politik muncul, meski teknokrasi mendapatkan ruang besar terutama di bidang ekonomi. | Peran teknokrat ekonomi dan teknik di pemerintahan cukup dominan, misalnya Widjojo Nitisastro dan Emil Salim sebagai figur utama. | Konflik samar terjadi antara elite teknokrat dan kelompok kekuasaan politik yang memakai teknokrasi sebagai legitimasi formal, bukan perubahan substansial. | Pembentukan teknokrasi terhambat ketika politisi mengambil alih kebijakan teknis tanpa dasar keahlian, menyebabkan reformasi terdistorsi. | Diskursus publik dan kontrol media dibatasi untuk menekan kritik terhadap otoritas teknokrat yang dikontrol politik militer. | Inovasi kebijakan terbantu tapi hanya untuk mempertahankan stabilitas rezim; kepercayaan teknokrat terhadap sistem politis terbatas. | Reformasi pendidikan tinggi dan pelibatan teknokrat dalam pengambilan kebijakan sebagai strategi adaptasi kekuasaan politik. | Struktur otoriter yang mengutamakan stabilitas politik ketimbang transparansi dan keahlian, serta ketergantungan pada patronase. | Arsip pemerintah Orde Baru, 1985; laporan akademik ekonomi politik, Universitas Indonesia, 1990 (tinggi) |
| Era Reformasi (1998–sekarang) | Demokrasi multipartai dengan desentralisasi; kelembagaan masih dalam pembenahan; tantangan korupsi dan nepotisme tinggi. | Munculnya budaya politik dinasti dan politik populis yang menolak teknokrasi sebagai elit tertutup dan eksklusif. | Usaha penguatan meritokrasi melalui pembaruan sistem birokrasi, pendidikan, dan regulasi secara bertahap. | Konflik terbuka terjadi di hampir semua lini birokrasi antara tuntutan demokratisasi dan praktik teknokrasi yang masih kering otoritas. | Kekalahan meritokrasi oleh intervensi politik dan kelompok kepentingan menghambat profesionalisme dan efektivitas tata kelola.[7] | Mobilisasi kelompok masyarakat sipil dan media dalam mengkritik dan menantang narasi misologi-politik yang masih kuat. | Ketidakstabilan kebijakan publik, rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, dan praktek birokrasi tidak profesional. | Program reformasi birokrasi dan penerapan sistem pengukuran kinerja pegawai sebagai langkah adaptasi meritokrasi. | Ketimpangan pendidikan, budaya politik patrimonialisme, dan lemahnya penegakan hukum sebagai akar konflik. | Dokumen resmi Kementerian PANRB, 2023; laporan penelitian LIPI dan SMERU, 2024 (tinggi) |
| Catatan metodologis | Data dikumpulkan melalui telaah literatur pada arsip sejarah, dokumen pemerintah, publikasi akademis, dan laporan riset hingga 2025. | Pendekatan sintesis antara kajian sejarah sosial dan politik; keterbatasan sumber untuk periode pra-kalender menyebabkan asumsi berdasar keterangan tersisa. | Penggunaan sumber sekunder terbatas pada kajian akademik dan dokumen pemerintah yang terverifikasi untuk menghindari bias.[8] | Analisis berjalan dengan batasan interpretasi terhadap narasi mitos dan meritokrasi yang tidak selalu terdokumentasi secara formal atau lengkap. | Upaya penyeimbangan berdasarkan konteks periode dan kultur, dengan menjaga kesinambungan kronologis dan objek pengamatan tetap konsisten. | - | - | - | - | - |
Referensi
- ^ "meritokrasi". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2016.
- ^ Fox, Margalit (25 Januari 2002). "Michael Young, 86, Scholar; Coined, Mocked 'Meritocracy'". The New York Times. Diakses tanggal 2022-01-13.
- ^ "Mengapa Meritokrasi Kalah?". kumparan. Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ Pontianak 06, Tim Warta. "Teknokrasi: Sebuah Sistem Pemerintahan Berbasis Teknologi". Warta Pontianak. Diakses tanggal 2025-09-20. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ "Fenomena Konflik Sosial di Indonesia: Sampai Kapan Indonesia Terus Berada Dalam Konflik?". Jurnalis Sumbar | Portal Berita. Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ Kompasiana.com (2023-06-03). "Romantisme Teknokrasi dan Pemerintah Era Orde Baru". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ Siregar, Fajri. "Teknokrasi: Ironi Ilmuwan dalam Jerat Kekuasaan". tirto.id. Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ Archive →, View (2021-08-23). "Bentuk Lain Teknokrasi". Pijak Indonesia. Diakses tanggal 2025-09-20.
Bacaan lanjutan
| Sumber pustaka mengenai Meritokrasi |
- Burbank, Jane; Cooper, Frederick (2010). Empires in World History: Power and the Politics of Difference. Princeton: Princeton University Press. ISBN 0-691-12708-5. OCLC 436358445. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Kazin, Michael; Edwards, Rebecca; Rothman, Adam (2010). The Princeton Encyclopedia of American Political History. Princeton: Princeton University Press. ISBN 0-691-12971-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Kett, Joseph F. (2012). Merit: The History of a Founding Ideal From the American Revolution to the Twenty-First Century. Ithaca: Cornell University Press. doi:10.7591/9780801467677. ISBN 978-0801451225. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Lampert, Khen (2012). Meritocratic Education and Social Worthlessness. Palgrave Macmillan. ISBN 1137324880. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Mulligan, Thomas (2018). Justice and the Meritocratic State. New York: Routledge. ISBN 9781138283800. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

- Schwarz, Bill (1996). The Expansion of England: Race, Ethnicity and Cultural History. London: Routledge. ISBN 0-415-06025-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Ieva, Lorenzo (2018). Fondamenti di meritocrazia. Roma: Europa. ISBN 978-88-9384-875-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Sandel, Michael (2020). The Tyranny of Merit: What's Become of the Common Good?. New York: Farrar, Straus and Giroux. ISBN 9780374289980. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Pranala luar
- Quinion, Michael (21 Juli 2001). "World Wide Words: Meritocracy". World Wide Words. Diakses tanggal 17 Februari 2006.
- Bent, Nick. "Time for a more inclusive and progressive definition of meritocracy". Progress Online. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Juni 2008. Diakses tanggal 17 Februari 2006.
- Markovits, Daniel (19 Agustus 2019). "How Life Became an Endless, Terrible Competition". The Atlantic. Diakses tanggal 26 Agustus 2019.