Angklung
| Alat musik perkusi | |
|---|---|
| Klasifikasi | Alat musik perkusi |
| Hornbostel–Sachs | 111.232 (Idiofon tabung) |
| Pencipta | Suku Sunda |
| Alat musik terkait | |
| Arumba | |
| Angklung | |
|---|---|
Angklung terdaftar dan diakui sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia yang berasal dari Indonesia oleh UNESCO. | |
| Negara | Indonesia |
| Kriteria | Traditional |
| Referensi | 393 |
| Kawasan | Asia dan Pasifik |
| Sejarah Inskripsi | |
| Inskripsi | 2010 (sesi ke-5) |
| Daftar | Representatif |
Angklung (bahasa Inggris: [Angklung] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan) dan bahasa Sunda: ᮃᮀᮊᮣᮥᮀ) adalah alat musik Indonesia yang terdiri dari dua sampai empat tabung bambu yang digantung dalam rangka bambu, diikat dengan tali rotan. Tabung kemudian dipangkas dan dipotong dengan hati-hati oleh seorang pengrajin ahli untuk menghasilkan nada tertentu ketika kerangka bambu diguncang atau diketuk. | |
Angklung (Aksara Sunda Baku: ᮃᮀᮊᮣᮥᮀ) adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang berkembang dari masyarakat Sunda.[1][2] Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.[3][4] Dictionary of the Sunda Language karya Jonathan Rigg yang diterbitkan pada tahun 1862 di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu yang dipotong ujung-ujungnya menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan atau digoyangkan untuk menghasilkan bunyi.[5]
Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.[6] Dan pada tanggal 16 November 2022, Mesin pencari terbesar, Google memajang Angklung di laman depan situs sebagai Google Doodle untuk merayakan Hari Angklung Sedunia.[7][3]
Etimologi
Istilah angklung berakar dari bahasa Sunda angkleung-angkleungan, yang menggambarkan gerakan pemain serta bunyi klung yang muncul. Secara etimologis, kata ini terbentuk dari “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah, sehingga angklung dimaknai sebagai nada pecah atau nada yang tidak utuh.[8]
Asal-usul

Tidak ada petunjuk akan sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.[9]
Catatan mengenai angklung yang baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal-usul terciptanya musik bambu seperti angklung berdasar pada pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (paré) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Badui, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.[10]
Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu ater (awi temen), yang jika mengering berwarna kuning keputihan. Tiap nada dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah tiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.[9]
Di antara fungsi angklung yang dikenal oleh masyarakat Sunda sejak masa kerajaan Sunda adalah sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung. Pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak-anak pada waktu itu.[9]
Selanjutnya, lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana, dan kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan Seren Taun dipersembahkan permainan angklung. Pada penyajian angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong, Dongdang, dan Jampana (usungan pangan) juga sebagainya.[9]
Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatra. Pada 1908, tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai dengan penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.[9]
Bahkan sejak 1966, Udjo Ngalagena, tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda, mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.[9]
Jenis
Angklung Kanekes
Angklung Kanekes adalah bentuk tradisi musik angklung yang berkembang di wilayah Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, dan dipraktikkan oleh masyarakat Kanekes (sering disebut masyarakat Baduy).[11][12][13] Dalam kebudayaan ini, angklung memiliki dua fungsi primer, yaitu sebagai sarana ritual dan hiburan. Secara ritual, angklung berkaitan erat dengan tradisi padi, Angklung Kanekes digunakan dalam rangkaian upacara dari menurunkan padi (leuit) hingga menanam benih (ngaseuk), dengan perbedaan praktik di tiap wilayah, di mana sebagian melarang permainan angklung setelah ngaseuk, sementara wilayah lain justru melanjutkannya dengan permainan dan tarian.[14]
Angklung dibunyikan terutama pada saat masyarakat menanam padi di huma (ladang). Dalam praktiknya, cara penabuhan angklung saat penanaman padi menunjukkan perbedaan antarwilayah. Di wilayah Kajeroan (wilayah Baduy Tangtu atau Baduy Dalam), angklung umumnya dibunyikan secara bebas tanpa pola ritmis yang baku. Sementara itu, di wilayah Kaluaran (wilayah Baduy Panamping dan Baduy Dangka atau Baduy Luar), penabuhan angklung dilakukan dengan pola ritme tertentu.[15][16] Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh tingkat interaksi masyarakat Baduy dengan komunitas di luar lingkungan Baduy sendiri.[17]
Meskipun angklung dapat ditampilkan di luar konteks ritus padi, penggunaannya tetap diatur oleh ketentuan adat. Angklung hanya boleh dimainkan hingga masa ngubaran pare (tahap “mengobati” atau merawat padi), yaitu sekitar tiga bulan setelah padi ditanam. Setelah masa tersebut, selama kurang lebih enam bulan berikutnya seluruh bentuk kesenian dilarang untuk dimainkan. Angklung baru boleh dibunyikan kembali pada musim tanam padi selanjutnya. Penutupan masa permainan angklung ditandai dengan upacara musungkeun angklung, yakni prosesi penitipan atau penyimpanan angklung setelah selesai digunakan.[18][19][20]
Dalam konteks hiburan yang diperbolehkan adat, pertunjukan angklung biasanya diselenggarakan pada malam hari saat bulan terang dan tidak turun hujan. Pertunjukan dilakukan di buruan, yaitu halaman luas di lingkungan perkampungan.[20] Dalam sajian ini, angklung dimainkan sambil melantunkan berbagai lagu tradisional, antara lain Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang.[19] Dalam satu pertunjukan, angklung dimainkan oleh delapan orang penabuh, didampingi oleh tiga penabuh bedug berukuran kecil. Para penabuh berdiri dan bergerak membentuk formasi melingkar. Sebagian peserta lainnya melakukan ngalage, yaitu tarian dengan pola gerak sederhana dan telah baku. Seluruh aktivitas pertunjukan ini secara adat hanya dilakukan oleh laki-laki.[18][20][21] Praktik ini berbeda dengan ketentuan yang berlaku pada masyarakat Baduy Dalam, yang lebih ketat dalam menjalankan aturan adat (pamali). Masyarakat Baduy Dalam membatasi aktivitas yang bersifat hiburan dan menghindari kesenangan duniawi yang berlebihan. Oleh karena itu, kesenian di lingkungan Baduy Dalam pada umumnya hanya dilakukan untuk kepentingan ritual.[19][20]
Instrumen angklung di Kanekes terdiri atas beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan ukuran. Urutan dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Angklung roel terdiri atas dua buah angklung dan dimainkan oleh satu orang. Selain angklung, digunakan pula instrumen bedug, yang terdiri atas bedug, talingtit, dan ketuk, disusun berdasarkan ukuran panjangnya.[22][23] Penggunaan instrumen bedug menunjukkan variasi antar kampung. Di kampung-kampung wilayah Kaluaran digunakan tiga buah bedug. Di wilayah Kajeroan, kampung Cikeusik hanya menggunakan bedug dan talingtit tanpa ketuk, sedangkan di kampung Cibeo hanya digunakan satu bedug tanpa talingtit dan ketuk.[23][24]
Hak untuk membuat angklung di wilayah Kanekes secara adat hanya dimiliki oleh masyarakat Kajeroan (Baduy Dalam). Kajeroan terdiri atas tiga kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik.[25] Namun demikian, tidak semua penduduk di kampung-kampung tersebut berhak membuat angklung. Pembuatan angklung hanya dilakukan oleh individu tertentu yang memiliki garis keturunan pembuat angklung serta memenuhi persyaratan ritual yang ditetapkan adat.[26] Beberapa pembuat angklung yang dikenal antara lain Ayah Amir dari kampung Cikeusik dan Ayah Tarnah dari kampung Cikartawana. Masyarakat Kaluaran (Baduy Luar) memperoleh angklung dengan cara membeli dari para pembuat angklung di ketiga kampung Kajeroan tersebut.[24][27]

Angklung Reyog
Angklung Reyog merupakan alat musik untuk mengiringi Tarian Reyog Ponorogo di Jawa Timur.[28][29][30] Alat musik ini memiliki karakteristik suara yang sangat nyaring dan kuat, terdiri dari dua nada, serta bentuk unik berupa lengkungan dari rotan. Berbeda dengan angklung pada umumnya yang berbentuk kotak, Angklung Reyog tampil lebih artistik dengan tambahan hiasan benang berumbai warna-warni yang memperindah tampilannya.[31][32]
Dalam cerita rakyat, Angklung Reyog merupakan senjata milik Kerajaan Bantarangin saat berperang melawan Kerajaan Lodaya. Setelah kemenangan diraih, para prajurit merayakannya dengan penuh kegembiraan, termasuk para pemegang angklung.[33] Karena ikatan talinya yang sangat kuat, ayunan angklung menghasilkan bunyi khas “klong-klok” dan “klung-kluk” yang dipercaya mampu menghadirkan getaran spiritual bagi yang mendengarnya.[34][35]
Dalam sejarahnya angklung Reyog ini digunakan soundtrack pada film: Matahari dan Rembulan (1979) Singa Lodaya (1979), Warok Singo Kobra (1982), Suromenggolo (1991), Tendangan Dari Langit (2011), The Raid 2 (2014)[35]
Dan penggunaan angklung Reyog pada musik seperti: tahu opo tempe, sumpah palapa, Kuto reog, Resik Endah Omber Girang, dan campursari berbau Ponorogoan[35].
Angklung Gong Gumbeng
Merupakan jenis Angklung Reyog dari Sambit, Ponorogo. Bentuknya seperti Angklung Reyog tetapi ditata dari angklung kecil hingga yang paling besar dengan berbagai nada, Angklung Gong Gumbeng merupakan jenis angklung bernada pertama dan tertua. Seperangkat Angklung Gong Gumbeng bernada yang berusia lebih 250 Tahun kini disimpan di Museum Sri Baduga Bandung[36].
Angklung Gong Gumbeng merupakan kesenian tradisional khas masyarakat Ponorogo, khususnya di Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo dan telah ada sejak tahun 1837 M. Kesenian ini menggunakan seperangkat alat gamelan sederhana yang terdiri atas 15 gumbeng (alat mirip angklung yang digantang), satu gong bonjor, satu kendang, dan satu siter; istilah gumbeng sendiri berasal dari kata bumbung yang berarti potongan bambu, serta dimaknai pula dari kata mubeng yang menggambarkan kemampuan memainkan berbagai lagu dengan alat sederhana untuk mengamen. Gong Gumbeng tergolong kesenian langka karena merupakan satu-satunya di dunia dan hingga kini masih dilestarikan, khususnya melalui pementasan rutin minimal satu kali dalam setahun pada acara puncak bersih desa yang dilaksanakan setiap Jumat terakhir bulan Sela atau Dzul Qo’dah dalam kalender Hijriyah.[37][38]
Angklung Kongkil
Angklung Kongkil merupakan seperangkat alat musik tradisional yang berasal dari Desa Bungkal, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur,[39][40] yang terdiri atas kongkil (sejenis angklung)[41], gerong, kenong demung, kempul,[42] kendang, dan gong. Instrumen kongkil terbuat dari bambu yang diberi lubang di bagian tengah sebagai tempat bilah bambu pemukul, sehingga ketika digoyangkan dapat menghasilkan bunyi atau nada tertentu. Kesenian ini biasanya dimainkan oleh sekitar dua belas orang pemain untuk mengiringi vokal seorang sinden dalam membawakan lagu-lagu daerah. [43] Angklung Kongkil lahir pada tahun 1933, saat masyarakat Ponorogo dilarang berkumpul oleh pemerintah kolonial Belanda, dan kemudian dimanfaatkan oleh tokoh bernama Toinangun sebagai sarana perlawanan, di mana latihan kesenian menjadi kedok untuk membahas strategi melawan penjajah. [44]
Angklung Bali
Angklung Bali memiliki bentuk dan nada yang khas bali yang disebut Rindik dan Jegog Tingklik. Cara memainkan Angklung jenis bali ini dengan memukul bambu seperti gamelan. Angklung Bali mulanya adalah Angklung Reyog dari Ponorogo yang di bawa pejabat Majapahit akhir. yang membedakan keduanya terletak pada nada suara, bila angklung rindik bersuara kecil dan nyaring dimainkan dengan cara duduk dengan orenamen minimalis, sedangklan angklung Jegog Tingklik bersuara besar menggema dimainkan dengan cara berbeda dengan oranamen khas bali.
Musik angklung bali jenis Jegog Tingklik digunakan sondtrack pada film anime Akira (1988)[45][46]
Angklung Banyuwangi
Angklung Banyuwangi merupakan salah satu bentuk kesenian musik tradisional yang berkembang di wilayah Banyuwangi atau Blambangan, Jawa Timur. Dalam tradisi setempat, angklung Banyuwangi terbagi ke dalam beberapa jenis. Dua jenis yang paling dikenal adalah angklung paglak dan angklung caruk.[47][48] Angklung paglak dimainkan di atas paglak, yaitu gubuk kecil yang biasanya didirikan di tengah area persawahan, sedangkan angklung caruk merupakan bentuk pertunjukan musik yang mempertemukan dua kelompok angklung dalam satu pentas untuk saling mempertunjukkan kemampuan musikal.[49][50] Selain kedua jenis tersebut, dikenal pula variasi angklung lain seperti angklung tetak, angklung dwi laras, serta angklung Blambangan atau angklung daerah.[51][52]
Secara organologis, angklung Banyuwangi berupa alat musik bambu yang tersusun dalam sebuah rangka kayu yang diposisikan miring terhadap permukaan tanah. Instrumen ini terdiri atas tabung-tabung bambu yang dipotong dengan ukuran dan bentuk tertentu, kemudian dipasang pada ancak yang terbuat dari kayu. Ketika dipukul, tabung bambu tersebut menghasilkan bunyi yang nyaring dan membentuk paduan suara yang harmonis dengan sistem laras slendro. Berbeda dengan angklung Sunda yang dimainkan dengan cara digoyangkan, angklung Banyuwangi dimainkan dengan teknik pukul. Pemain menggunakan alat pemukul khusus yang umumnya terbuat dari bambu atau kayu santen, meskipun sebagian pelaku seni juga memanfaatkan kayu dadap sebagai bahan pemukul. Teknik permainan ini dikenal sebagai teknik Banyuwangenan dan menjadi ciri khas dalam pertunjukan angklung Banyuwangi.[53][54]
Dalam konteks kehidupan masyarakat, angklung Banyuwangi berfungsi sebagai sarana hiburan. Kesenian ini umumnya dipentaskan dalam berbagai acara, seperti malam pernikahan, upacara khitanan, peringatan hari-hari besar nasional, serta kegiatan lainnya. Angklung Banyuwangi pada awalnya tumbuh di lingkungan masyarakat agraris, khususnya di kalangan petani, sebagai pengisi waktu luang saat menjaga tanaman padi. Seiring perkembangannya, angklung ini kemudian mengalami perluasan fungsi menjadi media hiburan dan pertunjukan dalam berbagai keramaian.[55]
Angklung Gubrag
Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor.[56] Angklung ini telah berusia tua dan angklung gubrag digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare atau menanam padi, ngunjal pare atau mengangkut padi, dan ngadiukeun atau menempatkan ke leuit atau lumbung.[56] Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.[24][56][17]
Angklung Badeng
Badeng adalah salah satu bentuk kesenian tradisional yang menitikberatkan pada unsur musikal dengan angklung sebagai instrumen utamanya. Kesenian ini berkembang di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut, Jawa Barat.[57] Dalam perkembangannya, badeng dikenal sebagai sarana hiburan sekaligus media dakwah Islam. Namun demikian, terdapat dugaan bahwa kesenian ini telah dikenal masyarakat setempat sejak masa sebelum masuknya Islam, terutama dalam kegiatan yang berkaitan dengan ritual pertanian padi.[58][17] Sebagai media dakwah, badeng diperkirakan mulai berkembang seiring dengan penyebaran agama Islam di wilayah tersebut pada sekitar abad ke-16 atau ke-17. Pada masa itu, beberapa tokoh masyarakat Desa Sanding, antara lain Arpaen dan Nursaen, menimba ilmu agama Islam di Kesultanan Demak. Setelah kembali ke daerah asal, mereka berperan dalam menyebarkan ajaran Islam dengan memanfaatkan kesenian badeng sebagai salah satu sarana penyampaian pesan keagamaan kepada masyarakat.[24][59][60][61][62]
Perangkat musik dalam kesenian badeng terdiri atas sembilan buah angklung, yaitu dua angklung roel, satu angklung kecer, empat angklung indung dan angklung bapa, serta dua angklung anak. Selain angklung, digunakan pula dua buah dogdog, dua buah terbang atau gembyung, dan satu kecrek sebagai instrumen pendukung.[63] Teks lagu yang dibawakan umumnya menggunakan bahasa Sunda yang dipadukan dengan bahasa Arab, dan dalam perkembangannya juga menggunakan bahasa Indonesia. Isi teks mengandung nilai-nilai keislaman, nasihat moral, serta pesan-pesan yang disesuaikan dengan konteks pertunjukan.Pertunjukan badeng tidak hanya menampilkan sajian musik dan vokal, tetapi juga dilengkapi dengan atraksi tertentu yang bersifat demonstratif, seperti pertunjukan ketahanan tubuh terhadap senjata tajam.[24][64][65]
Beberapa lagu yang dikenal dalam repertoar badeng antara lain Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, dan Solaloh.[66]
Angklung Buncis
Buncis adalah salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional berbasis musik angklung yang berkembang di wilayah Baros, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.[67][68] Pada awalnya, kesenian buncis memiliki fungsi ritual yang berkaitan dengan kegiatan pertanian, khususnya dalam rangkaian upacara yang berhubungan dengan padi. Kesenian ini digunakan dalam berbagai aktivitas agraris, termasuk prosesi ngunjal atau membawa padi, sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil panen.[69][70]
Seiring dengan perubahan sosial dan budaya masyarakat, fungsi ritual kesenian buncis mengalami pergeseran. Sekitar dekade 1940-an, peran buncis sebagai sarana ritual pertanian mulai ditinggalkan dan beralih menjadi seni pertunjukan hiburan.[71] Perubahan ini sejalan dengan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap praktik-praktik tradisional serta perubahan sistem penyimpanan padi. Lumbung atau leuit yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam rumah tangga petani mulai digantikan oleh karung penyimpanan yang lebih praktis, sementara padi hasil panen lebih banyak langsung dijual. Kondisi tersebut menyebabkan kesenian buncis tidak lagi digunakan dalam konteks ritual pertanian.[24][27][67][72][73]
Nama buncis berasal dari teks lagu rakyat yang populer di kalangan masyarakat, yaitu “cis kacang buncis nyengcle…”. Teks lagu tersebut menjadi bagian penting dalam pertunjukan, sehingga nama buncis kemudian digunakan untuk menyebut kesenian ini.[17]
Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis meliputi dua angklung indung, dua angklung ambrug, satu angklung panempas, dua angklung pancer, dan satu angklung enclok. Selain itu, digunakan pula tiga buah dogdog yang terdiri atas talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya, beberapa instrumen tambahan seperti tarompet, kecrek, dan gong turut melengkapi pertunjukan. Angklung buncis menggunakan laras salendro, sementara vokal dapat menggunakan laras madenda atau degung. Repertoar lagu yang dikenal antara lain Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, dan Mega Beureum. Pada masa kini, pertunjukan buncis juga mengadaptasi lagu-lagu gamelan, dengan penyanyi perempuan yang berperan khusus sebagai vokalis.[27][74]
Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutisna [75] alias Si Etjle (1908–1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.[24]
Angklung Padaeng
Angklung padaeng adalah angklung yang dikenalkan oleh Daeng Soetigna sejak sekitar tahun 1938. Terobosan pada angklung padaeng adalah digunakannya laras nada Diatonik yang sesuai dengan sistem musik barat. Dengan demikian, angklung kini dapat memainkan lagu-lagu internasional, dan juga dapat bermain dalam Ensembel dengan alat musik internasional lainnya.[71]
Angklung Sarinande
Angklung sarinande adalah istilah untuk angklung padaeng yang hanya memakai nada bulat saja (tanpa nada kromatis) dengan nada dasar C. Unit kecil angklung sarinade berisi 8 angklung (nada Do Rendah sampai Do Tinggi), sementara sarinade plus berisi 13 angklung (nada Sol Rendah hingga Mi Tinggi).[71]
Angklung Toel
Angklung toel diciptakan oleh Kang Yayan Udjo sekitar tahun 2008.[76] Pada alat ini, ada rangka setinggi pinggang dengan beberapa angklung dijejer dengan posisi terbalik dan diberi karet. Untuk memainkannya, seorang pemain cukup men-toel angklung tersebut, dan angklung akan bergetar beberapa saat karena adanya karet.[71]
Angklung Sri-Murni
Angklung ini merupakan gagasan Eko Mursito Budi yang khusus diciptakan untuk keperluan robot angklung.[77] Sesuai namanya, satu angklung ini memakai dua atau lebih tabung suara yang nadanya sama, sehingga akan menghasilkan nada murni (mono-tonal). Ini berbeda dengan angklung padaeng yang multi-tonal. Dengan ide sederhana ini, robot dengan mudah memainkan kombinasi beberapa angklung secara simultan untuk menirukan efek angklung melodi maupun angklung akompanimen.[71]
Angklung Dodod
Angklung Dodod adalah salah satu jenis alat musik tradisional yang digunakan dalam pertunjukan kesenian Dodod. Dalam penyajiannya, Angklung Dodod selalu dipadukan dengan Bedug Dodod sebagai instrumen pendamping, dan keduanya membentuk satu kesatuan dalam pertunjukan. Kesenian Dodod berkembang di Kabupaten Pandeglang dan berkaitan dengan kehidupan masyarakat agraris setempat. Pada awal kemunculannya, kesenian Dodod digunakan dalam berbagai kegiatan upacara dan tradisi yang berkaitan dengan pertanian, seperti tetanen, ngalaksa, dan rasulan. Dalam perkembangannya, fungsi kesenian ini mengalami perubahan dan kini lebih banyak disajikan sebagai hiburan masyarakat.[17][78][79]
Instrumen angklung yang digunakan dalam kesenian Dodod meliputi Angklung Indung, Angklung Kurulung, Angklung Ketuk, Angklung Nying-nying, Angklung Enclok, dan Angklung Gong. Instrumen-instrumen tersebut digunakan secara bersama-sama dalam pertunjukan untuk membentuk struktur musikal kesenian Dodod.[17]
Ansambel

Agar lebih kaya suaranya, angklung sebaiknya dimainkan dengan alat musik lain, membentuk ansambel. Beberapa ansambel angklung yang sudah mapan adalah:
Klasik Padaeng
Ansambel angklung klasik yang dikenalkan oleh Daeng Soetigna ini terdiri atas:
- Angklung melodi
- Angklung akompanimen
- Bas betot
Kombinasi minimal inilah yang paling populer dan umum dijumpai saat konser maupun lomba paduan angklung.[80]
Angklung solo
Angklung solo adalah konfigurasi yang menggantungkan satu unit angklung melodi pada suatu palang sehingga bisa dimainkan satu orang saja. Sesuai dengan konvensi nada diatonis, maka ada dua jajaran gantungan angklung. Yang bawah berisi nada penuh, sedangkan yang atas berisi nada kromatis. Angklung solo ini digagas oleh Yoes Roesadi tahun 1964,[81] dan dimainkan bersama alat musik basanova dalam grup Aruba (Alunan Rumpun Bambu). Sekitar tahun 1969, nama Aruba ini disesuaikan menjadi Arumba[82]
Arumba
Arumba adalah istilah bagi seperangkat alat musik yang minimal terdiri atas: [83]
- Satu unit angklung melodi, digantung sehingga bisa dimainkan oleh satu orang
- Satu unit bass lodong, juga dijejer agar bisa dimainkan satu orang
- Gambang bambu melodi
- Gambang bambu pendamping
- Gendang[84]
Teknik permainan
Memainkan sebuah angklung sangat mudah. Seseorang tinggal memegang rangkanya pada salah satu tangan (biasanya tangan kiri) sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya (biasanya tangan kanan) menggoyangnya hingga berbunyi. Dalam hal ini, ada tiga teknik dasar menggoyang angklung:[85]
- Kurulung (getar), merupakan teknik paling umum dipakai, di mana tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkan ke kiri-kanan berkali-kali selama nada ingin dimainkan.[85]
- Centok (sentak), adalah teknik di mana tabung dasar ditarik dengan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan, sehingga angklung akan berbunyi sekali saja (stacato).[85]
- Tengkep, mirip seperti kurulung namun salah satu tabung ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi, teknik ini menyebabkan angklung mengeluarkan nada murni (satu nada melodi saja, tidak dua seperti biasanya). Sementara itu pada angklung akompanimen mayor, teknik ini digunakan untuk memainkan akord mayor (3 nada), sebab bila tidak ditengkep yang termainkan adalah akord dominan septim (4 nada).[85]
Angklung interaktif
Angklung interaktif adalah kegiatan di mana seorang konduktor mengajak banyak orang, yang umumnya awam, untuk bermain angklung beramai-ramai.[86] Kegiatan ini bisa dilakukan di tempat pariwisata atau acara ramah tamah. Pada para peserta akan dibagikan angklung-angklung yang sudah diberi nomor sesuai nadanya. Lalu, sang konduktor akan memimpin, biasanya dengan cara:
- Konduktor membuka satu layar besar bertuliskan lagu dalam not angka, lalu mengajak para peserta memainkan angklung yang tepat dengan menunjuk nada pada layar.
- Konduktor mengajarkan isyarat tangan untuk nada-nada tertentu pada penonton, kemudian memimpin suatu lagu dengan memberikan isyarat yang tepat secara berurutan untuk diikuti para peserta. Isyarat tangan ini di-adaptasi oleh Mang Udjo, berdasar isyarat yang dikembangkan oleh John Curwen.[87]
- Sebelumnya, Pak Daeng Soetigna menggunakan isyarat gambar binatang untuk melatih anak-anak TK.[88]
Modernisasi angklung
Secara esensial, angklung adalah alat musik bambu yang dimainkan dengan digetar. Hal tersebut tidak boleh diubah. Meski demikian, berbagai upaya kreatif untuk memodernisasinya terus berlangsung, seperti:
- Angklung elektrik karya Agus Suhardiman [89]
- Angklung otomatis, Tugas akhir Kadek Kertayasa di STIKOM Surabaya [90]
- Tra-digi, angklung robot yang dikontrol oleh i-pod, ciptaan Hasim Ghozali.[91][92]
- Klungbot, robot angklung yang mula-mula dikreasi oleh Krisna Diastama dan Karismanto Rahmadika,[93] kemudian dilanjutkan oleh Eko Mursito Budi.[94]
Daftar pustaka
- Ganjar Kurnia. 2003. Deskripsi kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat, Bandung.
Referensi
- ^ Bahij, Azmi Al. 2013. Sejarah 34 Provinsi Indonesia. Edisi pertama. Jakarta: Dunia Cerdas. hlm.167
- ^ Melalatoa, M. J. (2012). Ensiklopedia suku, seni dan budaya nasional: Abal sampai Berangas (Jilid 1, ed. revisi). Ensiklopedia Nasional Indonesia. hlm. 49
- ^ a b Paluseri, Dais Dharmawan; Murdiartono, Dwi; Syahdenal, Lintang Maraya (2013). Warisan budaya takbenda Indonesia: penetapan tahun 2013. Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 66. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Sjamsuddin, Helius; Winitasasmita, Hidayat (1986-01-01). Daeng Soetigna: Bapak Angklung Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 34. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Rigg, Jonathan (1862). A Dictionary of the Sunda language. Batavia: Batavia Lange & Co. hlm. 17. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Armandani, Karina (17-11-2014). "Wajah Angklung, Dulu dan Kini". CNN Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-24. Diakses tanggal 24-5-2021. ;
- ^ "Google Doodle Angklung Hari Ini: Perayaan Hari Angklung Sedunia". 2022-11-16. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-11-16. Diakses tanggal 2022-11-16.
- ^ 77 Warisan Budaya Takbenda Indonesia (PDF). 1. Vol. 1 (Edisi 1). Jakarta: Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2014. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c d e f "Angklung". Warisan Budaya Takbenda Indonesia. 2013. Diakses tanggal 30 September 2023.
- ^ "Angklung, Warisan Budaya Sunda Kebanggaan Indonesia". penalis.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-25. Diakses tanggal 2021-05-24.
- ^ disdik.purwakartakab.go.id. "ANGKLUNG". www.disdik.purwakartakab.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ Tempo, Pusat Data dan Analisa (2022-01-01). Angklung: Diplomasi dan Terapi. Tempo Publishing. hlm. 20. ISBN 978-623-05-1358-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ R, Ubun Kubarsah (1994). Waditra: mengenal alat-alat kesenian daerah Jawa Barat. Beringin Sakti. hlm. 61. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Rafianti,S.H.,M.H, Dr Laina (2022-12-07). PERLINDUNGAN HUKUM DAN PEMANFAATAN HAK EKONOMI EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL OLEH PELAKU SENI PERTUNJUKAN. Penerbit Alumni. hlm. 152. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ M.A, Dr Usman Supendi, M. Pd & Asep Sandi Purwanda S. Ag (2025-01-17). Ekonomi Kreatif Masyarakat Baduy Bersumber Kearifan Lokal. LovRinz Publishing. hlm. 179. ISBN 978-623-91646-1-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Rosyadi. (2012). Angklung: Dari Angklung Tradisional Ke Angklung Modern. Patanjala. 4 (10), 26-40
- ^ a b c d e f Sumaludin, M. M. (2022). Angklung tradisional sebagai sumber belajar sejarah lokal. Prabayaksa: Journal of History Education, 2(1), 52–65.
- ^ a b Khuluq, Akhmalul (2016-06-18). Alat Musik Tradisional Nusantara. JPBOOKS. hlm. 36. ISBN 978-602-206-480-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c Deskripsi kesenian Jawa Barat. Kerjasama Dinas Kebudayaan & Pariwisata, Jawa Barat [dengan] Pusat Dinamika Pembangunan, Unpad. 2003. hlm. 22. ISBN 978-979-97718-0-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c d Atmadibrata, Enoch (2006). Khazanah seni pertunjukan Jawa Barat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat. hlm. 5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Atmadibrata, Enoch (2006). Khazanah seni pertunjukan Jawa Barat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat. hlm. 92. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Sylado, Remy (2017-04-10). Perempuan Bernama Arjuna 6: Sundanologi dalam Fiksi (dalam bahasa Inggris). Nuansa Cendekia. ISBN 978-602-350-380-3.
- ^ a b Deskripsi kesenian Jawa Barat. Kerjasama Dinas Kebudayaan & Pariwisata, Jawa Barat [dengan] Pusat Dinamika Pembangunan, Unpad. 2003. hlm. 22–23. ISBN 978-979-97718-0-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c d e f g Sopamena, Cornelis Jonathan. "Jenis-jenis Angklung dan Cara Memainkannya". detikjabar. Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ utisna, M., Hidayat, D. J., Sudrajat, M. A., Ramdani, & Malik, M. (2023). Eksistensi pikukuh adat sebagai kontrol sosial pada masyarakat Baduy di Desa Kanekes. Jurnal Citizenship Virtues, 3(2), 600–606.
- ^ Khuluq, Akhmalul (2016-06-18). Alat Musik Tradisional Nusantara. JPBOOKS. hlm. 36. ISBN 978-602-206-480-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c Atmadibrata, Enoch (2006). Khazanah seni pertunjukan Jawa Barat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat. hlm. 6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Rahma, Angely. "Mengenal 16 Alat Musik Tradisional Jawa Timur dan Fungsinya". detikjatim. Diakses tanggal 2026-01-17.
- ^ CNN Indonesia. 2025. “10 Alat Musik Tradisional dari Jawa Timur dan Cara Memainkannya.” CNNIndonesia.com, 24 Juni 2025. diakses secara daring dari https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20250617104613-569-1240520/10-alat-musik-tradisional-dari-jawa-timur-dan-cara-memainkannya
- ^ JEMBER, SUARA INDONESIA. "Ini Alat Musik yang Biasanya Jadi Pengiring Tarian Reog". SUARA INDONESIA JEMBER. Diakses tanggal 2026-01-17.
- ^ "SMA NEGERI 2 TANJUNGPANDAN - BELITUNG". www.sman2-tp.sch.id. Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ "Angklung Sebagai Warisan Musik Nusantara yang Mendunia". www.indonesia.travel. Diakses tanggal 2026-01-17.
- ^ ulton, Wulansari, B. Y., & Utami, P. S. (2020). An introduction to character education for early childhood through music instruments in Wayang Golek Reyog Ponorogo. Jurnal Indria: Jurnal Ilmiah Pendidikan PraSekolah dan Sekolah Awal
- ^ Metronom (2019-02-09). "'Klong-Klok, Klung-Kluk' Getaran Mistis Angklung Reog". Metrum. Diakses tanggal 2026-01-17.
- ^ a b c "Angklung Reog » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ "Gong Gumbeng » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ "Gong Gumbeng Sejak 1837 Masehi". Diakses tanggal 2026-01-17.
- ^ Farahiba, A. S. (2017). Afirmasi nilai estetika, etika, dan sosial kesenian Gong Gumbeng di Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 18(2), 1–16
- ^ Album Alat Musik Tradisional (PDF). DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN. 1994. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Soedjiono, S. (1995). Album alat musik tradisional. hlm.49 Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
- ^ Soedjiono, S. (1995). Album alat musik tradisional. hlm.6 Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
- ^ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 51
- ^ Album Alat Musik Tradisional (Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat). Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994-01-01. hlm. 49–51. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Kediripedia (2025-11-20). "Kongkil, Musik Perlawanan pada Penjajah Belanda di Ponorogo". Kediripedia.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-01-17.
- ^ "Balinese Musical Styles in Katsuhiro Otomo's 1988 "Akira" | U-M LSA Center for Southeast Asian Studies (CSEAS)". ii.umich.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-03.
- ^ Muse (2020-11-17). "Inside the Daring Score of the 1988 Anime Masterpiece Akira | Muse by Clios" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-03.
- ^ Ariyarso, Venansius Aldha, dan Joko Winarko. Analisis Bentuk Penyajian Musik Etnik Angklung Paglak Desa Kemiren dalam Festival Angklung Paglak se-Kabupaten Banyuwangi 2018. Geter: Jurnal Sendratasik 5, no. 1 (2022): 60–73.
- ^ Sutarto, A., Sofyan, A., Adipitoyo, S., Prakoso, R. D., & Setiawan, I. (2013). Pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya lokal Jawa Timur: Modul (Edisi pertama). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 512
- ^ Shadily, Hassan; Sitompul, Binsar; Burhan, Firdaus; Suharto, Suharto; Sumaryo, Sumaryo; Sudharsono, Sudharsono; Suwondo, Bambang; Yunus, Ahmad (1979-01-01). Ensiklopedi musik indonesia seri a-e. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 21. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Sutton, R. Anderson (1991-04-26). Traditions of Gamelan Music in Java: Musical Pluralism and Regional Identity (dalam bahasa Inggris). CUP Archive. hlm. 242. ISBN 978-0-521-36153-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Angklung di Jawa Barat: sebuah perbandingan. P4ST UPI. 2003. hlm. 99. ISBN 978-979-97578-0-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Oktavia, Savira. "Mengenal Angklung Banyuwangian yang Ada Sejak Zaman Kerajaan Blambangan". detikjatim. Diakses tanggal 2026-01-21.
- ^ Tim Penyusun. (2021). Peta Jalan Pemajuan Kebudayaan Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2021–2025. hlm. 81. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. ISBN 9786239535360.
- ^ Hendratha, Elvin, 2021, Angklung: Tabung Musik Blambangan, Banyuwangi: Sengker Kuwung Blambangan
- ^ Shadily, Hassan; Sitompul, Binsar; Burhan, Firdaus; Suharto, Suharto; Sumaryo, Sumaryo; Sudharsono, Sudharsono; Suwondo, Bambang; Yunus, Ahmad (1979-01-01). Ensiklopedi musik indonesia seri a-e. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 20–21. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c "Angklung Warisan Budaya Takbenda Asli Indonesia, Ketahui Sejarah dan Jenisnya". Liputan6. 27 September 2024. Diakses tanggal 6 Mei 2025.
- ^ Shadily, Hassan; Sitompul, Binsar; Burhan, Firdaus; Suharto, Suharto; Sumaryo, Sumaryo; Sudharsono, Sudharsono; Suwondo, Bambang; Yunus, Ahmad (1979-01-01). Ensiklopedi musik indonesia seri a-e. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 33. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Rosyadi. (2012). Angklung: Dari Angklung Tradisional Ke Angklung Modern. Patanjala. 4 (10), 26-40
- ^ "Angklung Badeng". direktoripariwisata.id. Diakses tanggal 2026-01-23.
- ^ Deskripsi kesenian Jawa Barat. Kerjasama Dinas Kebudayaan & Pariwisata, Jawa Barat [dengan] Pusat Dinamika Pembangunan, Unpad. 2003. hlm. 25. ISBN 978-979-97718-0-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Angklung di Jawa Barat: sebuah perbandingan. P4ST UPI. 2003. hlm. 52. ISBN 978-979-97578-0-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Sumadi, R. S. A., & Triharini, M. (2024). Physical form of angklung as the embodiment of its cosmology and social purpose. Jurnal Penelitian Musik, 5(2), 1–25.
- ^ D, Tim Pgsd (2017-04-07). INOVASI MUSIK UNTUK ANAK NEGERI INDONESIA DI SD. UMMPress. hlm. 307. ISBN 978-979-796-259-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Khuluq, Akhmalul (2016-06-18). Alat Musik Tradisional Nusantara. JPBOOKS. hlm. 36–37. ISBN 978-602-206-480-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Seni dan Budaya. PT Grafindo Media Pratama. hlm. 38. ISBN 978-979-758-369-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Angklung di Jawa Barat: sebuah perbandingan. P4ST UPI. 2003. hlm. 112. ISBN 978-979-97578-0-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b Deskripsi kesenian Jawa Barat. Kerjasama Dinas Kebudayaan & Pariwisata, Jawa Barat [dengan] Pusat Dinamika Pembangunan, Unpad. 2003. hlm. 26. ISBN 978-979-97718-0-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Angklung di Jawa Barat: sebuah perbandingan. P4ST UPI. 2003. hlm. 62. ISBN 978-979-97578-0-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Ayo Sunaryo (2021-02-25), Angklung Buncis, Baros Arjasari Bandung, diakses tanggal 2026-01-24
- ^ Kompasiana.com (2023-10-10). "Kunjungan ke Kampung Adat Cireundeu". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-01-25.
- ^ a b c d e "7 Jenis Angklung, Alat Musik yang Ada di Indonesia". kumparan. Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ Rosyadi. (2012). Angklung: Dari Angklung Tradisional Ke Angklung Modern. Patanjala. 4 (10), 26-40
- ^ Faturahman, R. T., Apriani, A., & Husen, W. R. (2025). Eksistensi angklung buncis Sawargi di Desa Manggungjaya, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya. Misterius: Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual, 2(1), 1–25.
- ^ Alam dan seni budaya Jawa Barat. Dinas Pariwisata Daerah Tingkat I Jawa Barat. 1986. hlm. 36. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Dewi, Ni Luh Putu Chandra; Estudiantin, Nusi Lisabilla; Yogaswara, Wawan; Yulita, Ita; Moerdianti, Retno (2008). Informasi Koleksi Musik Tradisional Indonesia (PDF). Jakarta: Museum Nasional. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Yayan Ujo Penemu Angklung Toel". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-03-02. Diakses tanggal 2010-08-22.
- ^ "Klungbot FTI ITB". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-03. Diakses tanggal 2010-08-22.
- ^ Nugraha, A., Permana, R., & Suhaya. (2023). Bentuk penyajian dan pergeseran fungsi kesenian Dodod Angklung di Kampung Pamatang Desa Mekarwangi Kecamatan Saketi Kabupaten Pandeglang. Matra: Jurnal Musik Tari Teater & Rupa, 2(1), 14.
- ^ Mardiah, S. (2025). Perubahan fungsi dan makna kesenian tradisional Dodod dalam kehidupan masyarakat (Studi kasus Kampung Pamatang, Desa Mekarwangi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang) (Skripsi). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
- ^ Budi, Eko M. (2024-12-27). "Musik Angklung Klasik". Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ Liputan6.com (2005-07-17). "Melalui Angklung Yoes Roesadi Berkeliling Dunia". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-01-29. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ "Sejarah Aruba". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-12-30. Diakses tanggal 2010-08-22.
- ^ "Arumba". Diakses tanggal 2010-08-22.[pranala nonaktif permanen]
- ^ Budi, Eko M. (2024-12-27). "Arumba". Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ a b c d Budi, Eko M. (2024-12-28). "Teknik Bermain Angklung". Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ "Isyarat Angklung Interaktif". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-11-24. Diakses tanggal 2012-12-29.
- ^ Johnson, Michael (2020-11-21). Making Music in Montessori: Everything Teachers Need to Harness Their Inner Musician and Bring Music to Life in Their Classrooms (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing PLC. hlm. 45–54. ISBN 978-1-4758-4470-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Angklung Sarinande dan TK". Diarsipkan dari asli tanggal 2013-07-25. Diakses tanggal 2012-12-29.
- ^ "Angklung Elektrik". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-03. Diakses tanggal 2012-03-31.
- ^ Burhani, Ruslan (ed.). "Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis". ANTARA News. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-07-05. Diakses tanggal 2012-03-31.
- ^ "Angklung+Apple=Tra-Digi". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-07-04. Diakses tanggal 2012-03-31.
- ^ "Tra-Digi". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-10-14. Diakses tanggal 2012-03-31.
- ^ Wahono, Tri (ed.). "Klungbot, Robot Pemain Angklung". Kompas.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-03. Diakses tanggal 2012-03-31.
- ^ "Klungbot 2". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2012-03-31.[pranala nonaktif permanen]
Pranala luar
- Keluarga Paduan Angklung Institut Teknologi Bandung Diarsipkan 2013-11-01 di Wayback Machine.
- Keluarga Paduan Angklung SMA Negeri 3 Bandung Diarsipkan 2018-12-11 di Wayback Machine.
- Arumba Angklung Music Edutainment Diarsipkan 2010-02-18 di Wayback Machine.
- [1] Diarsipkan 2014-08-08 di Wayback Machine.
- AWI (Angklung Web Institute) di Bandung, Indonesia Diarsipkan 2015-01-01 di Wayback Machine.
- Jangan Ambil Angklung Kami, Pakcik… Diarsipkan 2007-11-15 di Wayback Machine., Kompas
- Sejarah Saung Angklung Udjo Diarsipkan 2009-03-29 di Wayback Machine.
- Klungbot Diarsipkan 2012-09-04 di Wayback Machine.
- (Inggris) Indonesian Angklung - UNESCO: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity - 2010